ADAM DAN HAWA DIUSIR DARI SURGA
Tulisan ini dikutip dari buku : Kecerdasan menangkap dan menciptakan pelang
Karangan : Bapak Supardi Lee
Kesalahan besar dilakukan Nabi Adam di surga, Ia terbujuk istrinya, Hawa, untuk memetik dan memakan Buah Khuldi. Hawa sendiri tergoda oleh Iblis. Buah Khuldi yang jelas-jelas dilarang Tuhan itu telah “dikemas” Iblis menjadi buah yang sangat menarik di mata Hawa. Maka diusirlah dua kekasih itu dari surga yang penuh kenikmatan. Cerita selanjutnya tentu anda sudah tahu. Adam dan Hawa kemudian beranak pinak di bumi ini. Nah, sekarang mari kita berpikir. Apakah kalau Adam dan Hawa tidak diusir dari surga kita akan ada di bumi seperti sekarang? Saya sendiri tidak tahu. Tapi kalau boleh saya menduga, mungkin tidak. Bagi saya peristiwa pengusiran Adam dan Hawa dri surga justru membawa hikmah luar biasa. Baik bagi mereke berdua, atau bagi anak-anak cucunya. Pengusiran itu memungkinkan kita hidup di dunis seperti yang sekarang kita nikmati. Anda mungin berpikir juga, “ Kalau dulu mereka tidak diusir dari surga, kita enak dong bisa hidup di surga?” saya setuju dengan pikira anda. Kemungkinan itu pun ada. Artinya, kita bisa menikmati fasilitas-fasilitas surga tanpa perlu mengambil resiko masuk neraka dengan hidup di bumi seperti ini. Bagi saya dua kemungkinan ini oke-oke saja. Hidup di surga pasti enak(saya yakini itu, meski saya belum pernah ke sana). Hidup di bumi juga enak. Kita sedang merasaannya kan? Jadi, peristiwa pengusiran adam dan Hawa dai surga ternyata membawa dampak yang luar baisa hebatnya. Kalau anda diusir dari rumah anda sekarang, bagimana perasaan anda? Pasti sakit. Kasihan deh. Nah, apa yang akan ada lakukan setelah anda tidak punya rumah? Apakah anda akan membangun rumah yang lebih besar. Atau anda akan numpang di rumah teman anda sambil ngomel-ngomel tentang pengusiran itu. Atau anda akan berkelana keliling dunia. Tentu jawabannya terserah anda. Anda mungkin bingung mau ngapain, lha ..wong anda belum pernah diusir koq. Tapi anda bisa belajar dari Adam dan hawa ketika mereka diusir dari surga. Anda juga bisa belajar dari sikap Iblis ketika lebih dulu diusir dari surga oleh Tuhan. Jadi, mau seperti Adam dan Iblis? Ah, itu pertanyaan yang tak perlu dijawab, ya?
Ketika Adam dan Hawa disur dari surga mereka berdua minta ampunan Tuhan.
Ketika Iblis diusir dari surga, ia minta di panjangkan umur untuk menggoda dan mebuat manusia ingkar pada Tuhan.
Adam merubah kesalahannya menjadi peluang berbuat kebaikan dan perbaikan.
Iblis membuat kesalahannya sebagai peluang berbuat kesalahan dan kerusakan lebih banyak lagi.
Inilah bedanya Adam dan Iblis.
TIGA TIPE ORANG
Kutipan dari tulisan : Bpk Supardi Lee
Maaf Pak tulisannya saya muat disini sebagai pelajaran berharga bagi kami
Tipe 1. Looser
Inilah kisahnya :
Saya pernah bertemu dengan sorang mahasiswa perguruan tinggi kedinasan. Kami pun ngobrol.
Penulis : Wah anda enak ya Lulus nggak usah repot dcari-cari kerja lagi
Mahasiswa : Iya sih pak. Tapi saya pasti ditempatkan di luar Jawa. Daerah terpencil lagi
Penulis : Itu hebat. Anda punya kesempatan mengabdi pada daerah yang memang
membutuhan, iya kan?
Mahasiswa : Tapi Pak saya tidak mengenal siapapun di daerah. Teman-teman saya kan di
Jakarta.
Penulis : Anda kan bisa kenalan sama banyak orang. Artinya teman-teman anda
bertambah banyak.
Mahasiswa : Tapi saya orang yang susah memulai kenalan dengan orang lain. Saya takut
berkenalan.
Dialog saya dengan sang mahasiswa terhenti sejenak. Saya terdiam dan berpikir : “Orang ini ternyata selalu memulai kata-katanya dengan kata “Tapi”. Aromanya jadi negatif. Ia selalu melihat MASALAH dibalik PELUANG yang ia dapatkan.”
Saya mulai lagi perbincangan :
Penulis : Mas, mau enggak anda belajar sesuatu yang baru?
Mahasiswa : Mau Pak asal cocok dengan saya
Penulis : Teman bisnis saya di Bandung, memerlukan sales. Ia bersedia mendidik dan
melatih siapapun yang mau belajar padanya. Gimana?
Mahasiswa : Apa syaratnya?
Penulis : Anda tinggal berangkat ke Bandung. Tempat tinggal, makan dan transport
ditanggung oleh teman saya ini.
Mahasiswa : Bagus itu. Bagaimana kalau saya nggak bisa?
Penulis : Justru anda kesana belajar untuk bisa. Gimana? Kalau menurut saya itu
bagus untuk ngisi liburan anda.
Mahasiswa : Tapi Pak, emang di Jakarta ini aja nggak ada?
Penulis : Belum ada, peluang itu haya ada di Bandung. Mas saya punya masukan
untuk anda. Mau dengan nggak?
Mahasiswa : Silahkan Pak
Penulis : Saya yakin anda mau sukses. Benar kan? (Sang Mahasiswa mengangguk).
Karena itu, mulailah dengan mengubah kata-kata anda. Dari tadi kita
ngobrol, anda sering sekali memulai kalimat dengan kata TAPI. Dengan
begitu anda jadi hanya berfokus pada masalah bukan pada peluang yang
anda dapat. Kalau menurut saya itu kurang baik. Nah, kalau anda benar-
benar mau sukses Berubahlah. Jangan mulai kata-kata engan kata TAPI,
Gimana?
Mahasiswa : Begitu ya Pak Tapi…
Penulis : Nah, anda mulai lagi dengan TAPI……Oke kalau begitu, saya akan kabari
teman saya di Bandung kalau anda akan kesana besok. Selamat berjuang dan
belajar, ya.
Mahasiswa : Terima kasih, Pak
Perbincangan kami pun berakhir dengan satu harapan di hati saya. Ia akan berangkat ke Bandung dan belajar sesuatu yang baru. Harapan yang beberapa hari kemudian saya ketahui hasilnya. TAK TERPENUHI.
Saudara, saya menggolongkan sang mahasiswa ini sebagai looser. Inilah tipe pertama orang. Tipe ini mempunnyai ciri utama lebih focus pada MASALAH daripada PELUANG. Ciri ini terlihat pada kata-katanya. Jadi bila anda menemukan orang yang memulai kalimatnya dengan kata TAPI, ia kemungkinan besar adalah looser. Kata-kata lain yang menjadi favorit tipe ini adalah NGGAK MUNGKIN.
Selain itu, para Loser adalah pengeluh tingkat tinggi. Mereka sering mengeluh dalam kondisi apapun. Ketika mendapat keuntungan mereka mengeluh. Keuntungan yang mereka dapat terlalu kecil. Apalagi ketika mendapat kerugian. Mereka akan membesar-besarkan kerugian mereka. Selain itum mereka akan mendramatisir, seakan mereka adalah orang yang paling malang sedunia.
Para looser adalah penerima nasib. Mereka berpendapat bahwa segala kondisi buruk yang menimpa mereka adalah nasib. Karea nasib maka tidak dapat dirubah. Mereka akhirnya belajar untuk menikmati kondisi buruk mereka. Jadi kalau mereka miskin, mereka akan menikmatinya. Kata-kata yang keluar adalah “Kami bersabar pada kemiskinan kami”.
Sampai jumpa pada cerita berikutnya
Masih ada dua tipe lagi yang belum ditayangkan……..